Jayapura  – Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Humas Operasi Damai Cartenz (ODC) 2026, Kombes Pol. Yusuf, menegaskan bahwa sosok Sebby Sambom bukanlah juru bicara resmi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), melainkan hanya individu yang berperan sebagai influencer bagi kelompok tersebut.Jumat, (20/2/2026


Menurut Yusuf, berbagai klaim yang kerap disampaikan Sebby Sambom merupakan bagian dari upaya propaganda kelompok separatis di Papua untuk memperoleh perhatian dan validasi dari dunia internasional.

“Perlu kami luruskan, Sebby Sambom itu hanya seorang influencer dari kelompok kriminal bersenjata (KKB). Kalau juru bicara itu jelas posisinya ada di mana. Apa yang dia lakukan adalah hal biasa untuk mempropagandakan aksi mereka demi mendapatkan validasi dari dunia internasional,” tegas Yusuf.

Ia menjelaskan, Sebby kerap tampil di berbagai platform media sosial untuk menyuarakan pernyataan kelompok separatis, terutama setiap kali terjadi aksi kekerasan yang dilakukan KKB. Yusuf menilai narasi yang dibangun kerap merugikan masyarakat Papua sendiri serta mencederai kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Selain itu, Yusuf juga membantah klaim KKB yang menuding warga sipil yang menjadi korban kekerasan sebagai anggota intelijen TNI-Polri. Ia menyebut tudingan tersebut sebagai kebohongan publik yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Ia mencontohkan kasus penembakan pilot di Bandara Korowai. “Pilot yang menjadi korban adalah murni pilot maskapai sipil, bukan agen intelijen. Para penumpang sangat berduka. Mereka memahami betapa vitalnya transportasi udara di wilayah terpencil seperti Korowai,” ujarnya.

Kasus lainnya menimpa seorang tukang kayu yang tengah mengerjakan meja dan kursi untuk sekolah setempat. Yusuf menegaskan korban adalah pekerja sipil yang berkontribusi untuk pendidikan anak-anak Papua.

Satgas ODC juga menyesalkan aksi perusakan fasilitas umum, termasuk pembakaran sekolah dan ambulans. Di Korowai, warga bahkan disebut harus bernegosiasi dan memberikan sejumlah uang agar ambulans tidak dibakar oleh kelompok tersebut.

Terkait pengejaran pelaku di wilayah Korowai, Yusuf mengakui adanya tantangan geografis yang cukup berat. Wilayah Kabupaten Boven Digoel yang luasnya setara dengan satu provinsi seperti Jawa Tengah menjadi kendala tersendiri, ditambah keterbatasan jumlah personel di lapangan.