JAKARTA, – Eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran terhadap dinamika pasar energi global, terutama terkait volatilitas harga minyak dan gangguan rantai pasok. Dalam konteks ini, Direktur Eksekutif Srikandi Energi Indonesia, Annisa Nuril Deanty, menegaskan bahwa Indonesia perlu tetap fokus pada upaya menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memastikan perlindungan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak gejolak energi.
Menurut Annisa, dinamika geopolitik global memang dapat memengaruhi psikologi pasar dan harga energi internasional. Namun, Indonesia memiliki sejumlah instrumen dan kapasitas kelembagaan yang dapat menjadi penopang stabilitas energi domestik apabila dikelola secara optimal. Karena itu, respons terhadap situasi ini perlu diarahkan pada penguatan ketahanan energi, bukan pada penyebaran kekhawatiran yang berlebihan.
“Dalam situasi konflik global seperti ini, fokus utama kita seharusnya adalah menjaga ketahanan energi nasional. Negara harus memastikan bahwa sistem energi tetap berjalan stabil sehingga aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat tidak terganggu,” ujar Annisa.
Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor yang dapat menumbuhkan optimisme adalah posisi Pertamina sebagai integrated energy company yang memiliki peran strategis dari hulu hingga hilir. Struktur bisnis yang terintegrasi ini memberikan kemampuan adaptasi yang lebih kuat dalam menghadapi gejolak pasar energi global.
Dari sisi hulu, kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku energi. Aktivitas ini berkontribusi pada ketersediaan crude oil yang menjadi basis pengolahan energi nasional. Dengan pengelolaan yang baik, sektor hulu dapat memberikan sinyal positif bahwa Indonesia memiliki kapasitas produksi yang terus dioptimalkan untuk menopang kebutuhan energi.
Sementara itu, dari sisi kilang, kemampuan pengolahan minyak mentah menjadi berbagai produk energi seperti BBM merupakan elemen penting dalam menjaga stabilitas produk energi domestik. Kapasitas pengolahan yang terus diperkuat memungkinkan sistem energi nasional tetap mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara lebih terjamin.
Selanjutnya, dari sisi Subholding Commercial & Trading (Supply, Distribution & Trading), sistem distribusi dan logistik energi yang luas memainkan peran kunci dalam memastikan pasokan energi tetap menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Infrastruktur distribusi yang terintegrasi membantu menjaga stabilitas pasokan domestik sekaligus meminimalkan potensi gangguan akibat dinamika global.
Annisa menegaskan bahwa pendekatan komunikasi publik dalam situasi geopolitik yang sensitif juga perlu dilakukan secara hati-hati. Informasi yang disampaikan kepada masyarakat harus mampu membangun kepercayaan dan optimisme, sekaligus menunjukkan kesiapan sistem energi nasional dalam menghadapi berbagai kemungkinan.
Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya memastikan bahwa kebijakan energi tetap memperhatikan aspek perlindungan kelompok rentan. Kenaikan harga energi global seringkali memberikan dampak paling besar kepada masyarakat berpenghasilan rendah, nelayan, petani, serta pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi.

